Ahmad
Alfarisi Haslan (Alfa), putra kedua pasangan Bapak Hanan Wihasto, SE,
MM dan Ibu Sapta Wulandari adalah seorang anak semi autis yang
mengalami hambatan tumbuh kembang di masa kecilnya karena kondisi fisik
dan gangguan perilakunya. Sejak Bapak Hanan menduduki jabatan sebagai
Kepala Cabang Bank BTN Kantor Cabang Syariah Yogyakarta, Alfa yang
dahulu sekolah di Bogor pun dicarikan sekolah yang sesuai untuk kondisi
gangguan perilaku yang dialaminya. Setelah mendaftar dan menjalani tes
masuk jenjang sekolah dasar di dua SD di wilayah Yogyakarta, dua kali
juga Alfa ditolak dengan terang-terangan oleh SD yang bersangkutan
tersebut. Namun kedua orang tua Alfa tidak patah semangat dan akhirnya
mereka menemukan sekolah yang sesuai dengan kondisi sang buah hati,
yaitu Taruna Imani. Bagaimana liku-liku kisah seorang anak semi autis
yang sekarang duduk di bangku kelas 2 SD Taruna Imani ini. Ikuti
wawancara tim redaksi Aulade dengan Bapak dan Ibu Hanan Wihasto di
tempat kediamannya, Perum Nogotirto Elok II Blok D / 46 Gamping,
Godean, Sleman berikut ini.
Tumbuh Kembang Alfa yang Terhambat
Alfa
dilahirkan di Bogor pada tanggal 15 November 1998. Alfa menjalani masa
kecilnya sampai berumur 11 bulan di kota hujan tersebut. Karena bulan
Oktober 1999 kami sekeluarga pindah ke Bandung. Masa kecil Alfa memang
mengalami hambatan pada tumbuh kembangnya. Sejak umur 4 bulan ia
mengalami penyempitan flek dan kurang lebih umur 10 bulan terdeteksi
memiliki kelainan berupa gangguan jantung. Di usia 10 bulan itulah ia
harus menjalani operasi di rumah sakit. Hambatan tumbuh kembangnya
bukan itu saja. Umur 15 bulan yang seharusnya jika anak normal sudah
bisa berjalan, Alfa justru lemah dan belum bisa apa-apa. Alfa belum
menampakkan tanda-tanda untuk bisa berjalan. Akhirnya Alfa menjalani
fisioterapi “jalan” di Bandung. Pada awalnya dia kalau berjalan kesot
dan mundur tapi cepat sekali. Saat usia Alfa 27 bulan, Alfa baru bisa
berdiri dan akhirnya dapat berjalan. Selain kemampuan motorik kasarnya
terhambat, Alfa juga mengalami hambatan pada kemampuan berbicaranya.
Sebenarnya Alfa sempat bisa berbicara sebelum berjalan, namun kemampuan
berbicaranya menjadi hilang setelah ia bisa berjalan. Hal ini
menyebabkan kami sekeluarga menjadi heran. Kemudian Alfa kami ikutkan
untuk menjalani terapi wicara. Kurang lebih 1 tahun di Bandung, kami
pindah lagi ke Bogor. Setelah menjalani berbagai macam terapi secara
rutin di Bogor, Alfa mendapat surat rekomendasi yang menyatakan bahwa
anak ini mampu untuk dimasukkan di sekolah umum. Karena mendapat amanah
tugas dinas di Jogjakarta, tahun 2005 kami sekeluarga juga pindah ke
Jogjakarta.
Dua Kali Ditolak Sekolah
Setelah menjalani
terapi di Klinik Tumbuh Kembang Rumah Sakit Dr. Sardjito, Alfa di
sarankan untuk masuk ke SD Negeri atau SD Umum. Sewaktu mendaftar di
sebuah SD Negeri kami diterima oleh bapak-bapak. Tetapi begitu melihat
Alfa kurang bisa berinteraksi dan tentunya pihak sekolah juga sudah
menangkap bahwa Alfa termasuk anak yang berkebutuhan khusus, pihak
sekolah langsung berkata : “Mohon maaf Pak, di sini kami menangani
anak-anak yang normal saja sudah kewalahan. Kami tidak berani menerima
putra Bapak, silahkan mencari sekolah lain saja.” Tetapi Alfa sempat
dicoba bersekolah di SD tersebut selama beberapa hari. Setelah dicoba
beberapa hari Alfa disarankan untuk pindah sekolah karena pihak sekolah
tidak mampu menanganinya. Meskipun sedikit sudah bisa baca-tulis namun
untuk sosialisasi masih sangat kurang. Kemudian Alfa kami daftarkan ke
salah satu sekolah swasta di Jogja. Sewaktu dites, kertas dan bukunya
dilemparinya dan begitu melihat sikap Alfa, gurunya sedikit
tersinggung. Akhirnya Alfa pun tidak diterima di SD tersebut.
Disela-sela kebingungan mencari sekolah yang dapat menerima Alfa apa
adanya, akhirnya kami mendapat informasi bahwa Sekolah Islam Berbakat
Taruna Imani mampu menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus.
Akhirnya kami memutuskan untuk memasukkan Alfa ke Taruna Imani.
Tertarik karena Ada Nuansa Islaminya
Ketika
kami datang ke Taruna Imani, kami mendapat sambutan yang begitu
mengesankan dan familyer. Kami juga tertarik karena seperti ada nuansa
Islaminya. Guru-gurunya juga sangat familer. Selain itu, Taruna Imani
bisa menerima anak-anak dengan kondisi apa adanya. Semakin hari kami
semakin yakin dengan pelayanannya, terutama kedekatan guru kepada
anak-anak didik, guru-gurunya memperlakukan anak-anak didik dengan
penuh kasih sayang. Kami melihat metode pembelajarannya juga bagus dan
menurut kami unik. Anak-anak bisa berbaur menjadi satu antara yang
normal dengan anak-anak yang berkebutuhan khusus. Pola dasar
pendidikannya mengarah pada penerapan akhlaq dan budi perkerti yang
diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Selain itu penanaman sifat
jujur, amanah dan bertanggung jawab yang selalu di tekankan di sekolah.
Perkembangan Alfa Selama di Taruna Imani
Setelah beberapa minggu sekolah di Taruna Imani, Alfa banyak bercerita
tentang teman-temannya di sekolah. Setiap kejadian yang ia ingat di
sekolah, sampai di rumah ia ceritakan kepada kami sekeluarga. Hal ini
berarti Alfa merasa senang sekolah di Taruna Imani. Alhamdulillah,
setelah kurang lebih setengah semester sekolah di Taruna Imani Alfa
mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini terlihat dari
sikap dan perilaku dia yang telah menunjukkan banyak sekali kemajuan.
Meskipun baru setengah semester, terus terang Alfa mulai teratur.
Begitu pula dengan kedisiplinannya. Selain itu dia juga sudah bisa
makan sendiri. Awalnya Alfa tidak suka makan, yang ia suka hanya
biskuit. Tetapi sekarang makannya bervariasi karena di sekolah pun dia
makannya berganti-ganti. Akhirnya sekarang dia mau makan jajanan pasar
sekalipun.
Alfa menjadi senang masuk sekolah. Ia juga tertarik
untuk bermain bersama teman-temannya. Alfa sekarang sudah mulai
mengenal teman-temannya di sekolah. Bila pulang sekolah ia selalu
cerita pengalaman barunya di sekolah, menyebutkan satu per satu
nama-nama temannya di sekolah. Ketika berada di sekolah, Alfa juga
sering menyapa siapa pun, menanyakan siapa namanya, baik teman-temannya
maupun orang tua atau wali murid teman-temannya. Begitu pula ketika
suasana pulang sekolah, apabila ada orang tua atau wali murid menjemput
putra atau putrinya, Alfa akan bertanya dengan gayanya yang khas : “Mau
menjemput siapa?” Kemudian ia akan memanggilkan nama si anak yang
dijemput tersebut.
Dari segi akademik, Alfa juga sudah mulai bisa
mengerjakan soal-soal perkalian. Waktu itu saya melihat sendiri akting
dia waktu mengerjakan soal matematika. Tangannya mengarah di kepala
sambil memegang pensil, kelihatannya dia sedang berpikir. Tak lama
kemudian, dia memberi jawaban dan ternyata hasil jawabannya benar.
Tandanya ia paham dan mengerti penyelesaian soal-soal tersebut.
Di
rumah pun, Alfa mulai terlihat mandiri. Ketika mau dimandikan, Alfa
selalu bilang :”Aku sudah mandiri, Bu......”. Kami juga terharu melihat
Alfa ternyata bisa melipat bajunya sendiri. Biasanya kalau di rumah, ia
hanya bisa membantu membuang sampah tetapi sekarang bisa membantu
melipat baju.
Harapan untuk Taruna Imani
Terus terang kami
belum menemukan kekurangan yang bersifat prinsip di Taruna Imani, hanya
saja kami berharap semoga Taruna Imani segera memiliki gedung sendiri.
Begitu pula dengan layanan antar jemputnya, semoga dapat ditambah. Kami
juga berharap pendidikan di Taruna Imani bisa terus berlanjut, tidak
hanya sampai di jenjang sekolah dasar saja, tetapi bisa berlanjut
sampai ke jenjang-jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi.
Sebagaimana dituturkan oleh keluarga Bapak Hanan Wihasto, SE
(Hasil wawancara dengan redaksi Bulletin “Aulade” :Taruna Imani)
Repost dari hananwihasto.blogspot.com