Minggu, 28 Juli 2013

Sebelum (benar-benar) Berpisah

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi

Bersenang-senanglah
Karena hari ini yang kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Karna waktu ini yang kan kita banggakan di hari tua...

Sampai jumpa kawanku
Semoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
Semoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah
Karena hari ini yang kan kita rindukan
Di hari nanti...

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian

Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

:-(

Narsis ala maba :-D

Lambang UNS di kancing jas almamater


 First time narsis pake jas almamater UNS :D

Stiker Mayoga dan UNS di lemari belajar.. 


First announcement from UNS ^_^


JUST KIDDING :-P


Kamis, 25 Juli 2013

Ketika nanti bersamamu

Ku mohon berbaik hatilah padaku
Jangan buat aku takut, apalagi benci
Ku mohon ajak aku bicara
Jangan biarkan aku sendiri mengenang kejinya rindu
Ku mohon ajak aku tertawa
Agar hatiku damai memulai kehidupan bersamamu
Ku mohon untuk kau arahkan 
Agar aku bangga akan menyatu dengan duniamu
Ku mohon beri rasa percayamu padaku
Agar aku merasa kau bisa menjagaku
Ku mohon berilah aku kesempatan
Untuk ikhlas bersahabat dengan keadaan yang baru
Ketika nanti bersamamu


*Teruntuk calon dunia baruku... I will try to love you more!!*
H-20 kepindahan 

Rabu, 24 Juli 2013

"-_-

Rasanya tak lelah menuliskan tentang perasaan yang naif ini. Rasanya tak ada ujungnya aku bercerita tentang apa saja yang bergejolak dalam hati dan menari-nari dalam pikiran ini. Aku sudah meminta, cukup ini yang terakhir kali, aku tak ingin lagi bermain ilusi denganmu. Aku sudah lelah tenggelam dalam samuderamu, yang ombaknya kerap menghantamku keras hingga tergores luka di tepian. Namun, tangan ini selalu ingin merangkai huruf-huruf menjadi seuntai cerita tentang dirimu. Juga hati ini tetap bertahan merasakan pahitnya keadaan yang tidak memihakku padamu. Ah, aku tidak pantas seperti ini.
Aku tidak tahu bagaimana nanti kedepannya. Tapi aku sudah tidak tahan untuk menuliskannya. Aku berharap awan masih mau menjadi saksi dilemaku. Aku berharap hujan masih membersamaiku di tengah tandusnya penantianku. Aku berharap angin selalu sampaikan salam rinduku ketika lautan, benua, ruang, dan waktu menghalangi jumpaku denganmu.
Aku dan kamu masih anak-anak, walaupun usia kita bukan lagi usia anak-anak. Tapi kalau membicarakan perasaan yang naif ini, semuanya terbuncah seperti nantinya tidak akan terjadi penyesalan. Aku belum bisa berfikir panjang. Aku tidak tahu nantinya aku akan menyesal atau tidak. 
Sudah kukatakan, ini sudah terlalu lama, dan ini sudah terlalu kuat. Tapi aku tidak ingin peduli bagaimana denganmu. Yang aku tahu dan rasakan, aku tidak lebih dari yang dulu pernah denganmu. Bukan tentu pacar, bukan tentu teman dekat. Cemburu itu bisa hadir dengan siapa saja yang menurutku jauh lebih baik. Tapi aku selalu merasa debu dibanding mereka yang seperti angin, bisa menyingkirkan aku darimu kapan saja.
Aku tahu ini terlalu labil. Masih banyak diluar sana yang mungkin akan menjadi pertimbanganku dan kamu. Masih panjang waktu kita untuk bertemu jiwa-jiwa yang mungkin lebih menyenangkan. Masih ada kesempatan untuk aku dan kamu memantaskan diri, ntah nanti dengan siapa aku dan kamu akan berlabuh.

Terimakasih telah menjadi gejolak dalam hatiku. Izinkan aku untuk tetap menulis gejolak ini, sebelum Sang Pemilik Cinta merenggutnya dariku.

Sampai jumpa di skenario selanjutnya.

Senin, 22 Juli 2013

Hujan Abu

           Hujan abu pagi tadi mengingatkan aku pada peristiwa yang sama dua tahun yang lalu. Pertama kali aku melihat abu bertebaran itu ketika aku sedang mengikuti kegiatan perkemahan PMR di Babarsari. Waktu itu hujan abu juga terjadi dini hari. Tenda tempatku dan teman-teman berteduh sudah berembun campur abu. Dan saat itu aku pun sadar bahwa bahaya gunung merapi meletus tengah kurasakan.
       Dalam perjalanan pulang dari perkemahan, semuanya abu-abu. Jalanan, gedung-gedung, kendaraan, udara, semuanya abu-abu. Wah, keren sekali ini. Selama sekian tahun di Jogja aku sudah merasakan dua bencana yang menggemparkan seantero jagad raya, yaitu gempa bumi dan gunung meletus. Jogja memang istimewa, Allah memberikan ujian yang berat berupa bencana-bencana yang dahsyat supaya masyarakatnya selalu ingat kematian dan mendekat kepadaNya.
       Aku mencoba mengambil satu langkah lebih dekat dengan kabar bencana gunung meletus itu dengan memantau kabar temanku yang tinggalnya di Muntilan. Dia harus mengungsi karena kawasan rumahnya dalam radius waspada, dia juga tidak bisa berangkat sekolah ke Jogja karena jembatan yang menghubungkan Muntilan-Jogja putus karena arus lahar dingin. Masya Allah, ini benar-benar bencana, ku pikir begitu. Tapi temanku itu dengan bijaknya berkata, "Inna ma'al 'usri yusra, fa inna ma'al 'usri yusro yang artinya sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Q.S Al-Insyirah: 5-6). Semoga masyarakat disana juga percaya akan ayat ini. Allah pasti akan memberikan ganjaran yang setimpal kepada hambanya yang bisa berlapang dada menghadapi ujianNya.
         Pagi ini, ketika hujan abu itu kembali menggemparkan masyarakat Jogja. Aku kembali teringat, "Inna ma'al 'usri yusra, fa inna ma'al 'usri yusro". Aku ingin selalu mengingat itu saja. Agar hati selalu tenang dan lapang ketika menghadapi cobaan, bukannya mengeluh dan ingin lenyap dari kenyataan.

Seharusnya Dia Bahagia.

          Seharusnya dia bahagia. Dia mampu membuat bahagia kedua orangtuanya karena dia berhasil diterima di Perguruan Tinggi Negeri, walaupun sebenarnya PTN tersebut bukan yang paling dia inginkan, tapi dia tetap tak henti memanjatkan rasa syukur.
         Seharusnya dia bahagia. Dia mampu menjadi kebanggaan ayahnya. Ayahnya selalu memujinya dan sangat mengandalkan keberhasilan dia kelak. Wajar saja, karena dia adalah anak pertama. Segala fasilitas yang mendukung kenyamanannya kuliah di luar kota yang tidak jauh dari kota dimana ia tinggal itu pun sudah dipersiapkan. Sudah jauh-jauh hari dia di arahkan agar menjadi mahasiswa yang berprestasi dan sukses.
            Seharusnya dia bahagia. Dia memiliki orangtua yang sangat cukup secara ekonomi. Sehingga biaya kuliah yang terbilang mahal itupun tidak menjadi masalah baginya. Namun dia tetap kukuh akan mencari beasiswa untuk mengurangi biayanya, disamping dia memiliki dua orang adik yang juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk sekolah dan lainnya. Segala urusan mengenai tempat tinggal disana juga sudah selesai. Dia sangat bersyukur atas limpahan kemudahan yang telah diberikan Allah kepadanya.
            Seharusnya dia bahagia. Tapi ternyata bahagia tak sesederhana itu. Dibalik senyumnya yang cerah, ada suatu ganjalan yang membuatnya tidak merasa bahagia sepenuhnya. Ada rasa takut yang berkelebatan di hatinya. Dia takut jauh dari orangtuanya, adik-adiknya, teman-temannya, dan kamu. Kamu adalah orang yang paling dia khawatirkan, yang pertama kali muncul dalam benaknya saat dia memastikan bahwa dia tidak akan kuliah di kota yang sama denganmu.
            Seharusnya dia bahagia. Dia masih punya harapan untuk bisa dekat denganmu. Dia tak perlu khawatir karena kamu bertekad tidak akan kuliah diluar kota. Dia percaya, dan selalu mendoakan kamu agar kamu diterima di perguruan tinggi yang dekat. Walaupun sebenarnya dia sangat ingin kamu mendaftar perguruan tinggi di kota yang sama dengannya, karena dulu kamu sempat merencanakannya bukan? Tapi dia tidak berani menagih rencanamu yang dulu itu. Dia hanya mendukung kamu, apapun yang kamu rencanakan.
            Seharusnya dia bahagia. Keadaan sangat memihaknya agar selalu dekat denganmu. Perlahan dia mulai mengenal duniamu melewati teman kamu yang baru saja dia kenal. Dia merasa, melalui teman barunya itu dia akan selalu dekat denganmu. Hingga akhirnya dia memastikan bahwa dia tidak akan jauh dari kamu. Dunia terlalu sempit untuk memisahkan kalian. Tanpa dia sadari, dia pun tersenyum dan membuat skenario indah denganmu.
      Seharusnya dia bahagia. Seketika kamu memberitahunya bahwa kamu akan mendaftar perguruan tinggi di luar kota, tapi bukan kota yang sama dengannya, kota itu jauh sekali. Ada rasa sakit menusuk. Ternyata diam-diam kamu sudah merencanakan ini tanpa sepengetahuannya. Dia merasa tertipu, dia merasa tidak berguna. Yah, dia tidak berguna, dia tidak bisa membantumu yang tengah kesulitan, dia tidak bisa menenangkanmu saat kamu goyah, dia tidak bisa membuatmu semangat saat kamu jatuh. Dia tidak bisa memberikan solusi untuk memecahkan masalahmu.
         Seharusnya dia bahagia. Dia tidak bisa menahan airmatanya luruh, tetes demi tetes airmatanya ia usap. Dia benar-benar pedih. Isak tangisnya semalam adalah yang pertama kali ia keluarkan setelah berhari-hari kegalauannya bersarang. Dia kecewa, skenario indah yang dia buat ternyata pupus begitu saja. Dia terluka, karena dia bukan orang yang memecahkan masalahmu. Dia marah, karena dia bukan orang yang pertama kali mengetahui rencanamu. Cih! Dia memang tidak tahu diri, memang dia siapa. Sungguh dia egois sekali.
          Seharusnya dia bahagia. Kamu bisa menemukan satu titik cerah masa depanmu. Walaupun ini masih dalam tahap perjuangan. Tapi dia tahu bahwa kamu juga berharap diterima disana. Kamu akan bahagia dengan caramu yang sampai saat ini belum bisa dia pahami. Kali ini tolong maafkan dia. Dia akan mencoba untuk merasakan kebahagiaan yang seutuhnya. Bahagia karena segala sesuatu yang dia dapat. Bahagia karena rasa syukurnya. Bahagia karena kamu pun bahagia. 


Minggu, 21 Juli 2013

DAN

Dan bila esok datang kembaliSeperti sedia kala dimana kau bisa bercandaDan perlahan kaupun lupakan akuMimpi burukmu dimana tlah ku tancapkan duri tajamKaupun menangis menangis sedihMaafkan aku

Dan bukan maksudku bukan inginkuMelukaimu sadarkan kau disini kupun terlukaMelupakanmu menepikanmuMaafkan aku
Lupakan saja dirikuBila itu bisa membuatmuKembali bersinar dan berpijarSeperti dulu kala

Caci maki saja dirikuBila itu bisa membuatmuKembali bersinar dan berpijarSeperti dulu kala