Jumat, 13 Mei 2011

AKU PERNAH MENGENALMU


Sebuah pertanda mulia

Aku diperkenankan

Tuk mengenalmu

Mengenal saat kehadiranmu

Mengenal saat kepergianmu







Usai.

KECEWA

Ku endapkan kecewaku

Agarku tak semakin dibuai oleh

Puisimu.

Tak mengapa sesekali kau

Begitu

Hingga kau bukan lagi,

Tak dapat lipurkan

Pedihku.

Tak apa kau perlakukan aku

Agar tiada lagi deru

Ingin tahumu

Sebelum detik-detik perpisahan

Menghadap kepadaku.

13 Mei 2011 8:32 PM

JAUH


Semakin erat dekapmu dalam kalbu

Hangat kurasa

Pelukmu yang kian memanja

Berlindung dalam nafas sehari-hari

Lepaskan diriku segera,

Apa diriku memang lemah dihadapmu?

Malukah aku dihadapmu?

Memang siapa dirimu?

Sekali lagi ku coba rasuki

Hampa tujuanku,

Sandarkan gelagap pada kebingunganku,

Sadarkan kebodohan disaatku belajar

Mengenalmu

Semakinku ingin tentangmu

Ku ingin pahami hendakmu

Semakin terbentang penuh

Antara aku dan engkau

Dan aku tersungkur

Jauh,

13 Mei 2011 / 7:59 PM

Senin, 09 Mei 2011

Minggu, 08 Mei 2011

Surat Untuk Cintaku


Sleman, 5 Mei 2011

Cintaku,

Bagaimana keadaanmu saat ini? Semoga kebaikan selalu padamu dan untukku.

Aku ingin curahkan tentang mentari yang urungkan damaikan ruang dadaku. Musim kemarau tahun ini agaknya berlalu lebih lama. Atau mungkin sulit diakhiri karena kabarnya bumi yang kini tengah dijalin kasmaran oleh mentari. Bumi yang manja slalu ingin tampak jelita dihadapan mentari, dan mentari yang jahanam tlah berikrar tuk menjadi malaikat baik yang penuh sahaja akan mengasihi bumi. Kau pasti tau posisi akan hal itu, bukan? Panas sekali jadinya sepanjang malamku. Selimut rajutan bunda tak pernah kulapiskan di tubuhku untuk melipur lukaku karena sang malam. Yang bisa aku lakukan hanyalah membasuh wajahku untuk ciptakan embun-embun yang kunantikan akan menyejukkan tubuhku. Biarlah aku sedikit dibuatnya terhibur. Cintaku, apakah di singgasanamu bernaung kau merasakan seperti ini? Apakah musim kemarau disana membakar kalbumu yang kini dirundung sepi? Lalu apa yang kau lakukan tuk bahagiakan dirimu sendiri? Apakah kau malah lari dengan permadani hijaumu? Aku tak sedang menahan rindu untuk menyambutmu. Aku tak sedang resah mengejar detik-detik jumpa denganmu. Hanya aku ingin tahu bagaimana kau merangkul resahmu, lalu kau rubah ia dalam bentuk apapun, sehingga kau memiliki kepercayaan akan sesuatu yang baru, kau jadi menggenggam sesuatu yang baru, dan kemudian aku ingin mendapatkan itu pula. Tapi masihkah kau pendam kepercayaanmu untuk kau curahkan gundahmu padaku? Masihkah aku seperti benalu setelah aku tak berkesudahan lontarkan maafku?

Cintaku, aku akhiri dulu surat singkatku yang aku buat dengan penuh dendam dalam kerinduan. Aku harap kedamaian menjadi balasanmu.

6:26 AM