Minggu, 14 Desember 2014

Takut adalah luka psikis?

           Akhir-akhir ini aku menyadari sesuatu yang aneh pada diriku, yaitu rasa takut yang berlebihan. Rasa itu pertama kali muncul ketika di kosku ada kasus kemalingan sepeda motor. Beberapa hari setelah peristiwa itu, kosku kerap dihampiri oleh laki-laki yang mencurigakan. Dia memakai sepeda motor matic warna hitam. Pernah suatu subuh ada dua orang laki-laki datang ke kos, salah satunya mencoba masuk dengan membuka pagar, dan yang satunya menunggu di atas motor. Kemudian salah satu temanku menghentakkan meja dari dalam untuk mengagetkan orang itu. Benar saja dia langsung pergi alias tancap gas kabur. 
       Peristiwa itu sempat membuatku trauma mendengar suara sepeda motor matic yang melintas di sekitar kosku. Aku juga sangat takut jika suasana kos sepi, apalagi saat aku sendiri. Beberapa malam aku pun tidak berani tidur di kamar sendiri. Aku sempat beberapa kali menulis status di akun media sosialku tentang ini. Diantara teman-teman kosku yang lain, akulah yang paling terlihat ketakutan. 
           Aku pernah menanyakan tentang psikisku saat itu kepada temanku yang dia seorang alumni jurusan psikologi. Kata dia, mungkin aku pernah mengalami kekerasan atau segala bentuk kejadian yang membuat psikisku tertekan dan trauma, sehingga hal itu menyebabkan aku mudah dilanda rasa takut. Tapi aku mengelak. Aku merasa tidak pernah mengalami kejadian ekstrim yang melukai psikisku.
      Kejadian kemalingan dan dihampiri oleh orang mencurigakan itu sudah dua bulan berlalu. Aku sudah tidak takut lagi jika mendengar suara motor matic yang melintas di sekitar kos dan ketika harus sendirian di kos. Tapi rasa takut itu selalu muncul saat aku melihat, mendengar, dan membaca berita kriminal. Aku takut sekali, jantungku berdebar dan hampir ingin menangis. Aku kembali memikirkan kata-kata temanku dulu, apa mungkin aku pernah mengalami kekerasan.
             Secara lahiriyah aku memang tidak pernah mengalami kekerasan yang ekstrim. Tapi aku sering melihat dan mendengar kejadian kasar, sempat beberapa kali aku mengalaminya sendiri. Mungkin itulah penyebab dari "lukanya" psikisku. Perlakuan itu bukan dari orang asing yang jahat, melainkan dari anggota keluargaku sendiri, yaitu adikku yang besar.
            Dia memiliki luapan emosi yang belebihan dan sangat sensitif. Kalau marah dia bisa saja menampar, memukul, mencubit, bahkan misuh misuh. Aku sering menangis saat dia marah. Apalagi kalau dia begitu pada ibu. 
            Itulah kesedihan dan ketakutan terbesarku. Aku takut ibu dan adikku yang kecil kenapa-kenapa. Tapi untungnya ibuku sabar sekali, beliau tidak pernah marah bahkan tetap bersikap halus saat menanggapi kemarahan adikku. 
          Semoga aku saja yang merasakan ini, jangan adikku yang kecil, apalagi ibuku. Mungkin dzikir adalah cara terapi syar'i yang mampu menenangkan hati dan melenyapkan rasa takut dari pikiran yang tidak-tidak. 
           Lekas "sembuh" yaaa, Nai..

Senin, 17 November 2014

Persimpangan

Besok pagi aku kembali ke perantauan
Bersamaan dengan kamu yang kembali ke kampung halaman kita 
Aku ingin sekali bertemu dengan kamu
Walau hanya di persimpangan
Merasakan keberadaanmu yang semakin dekat
Menggebu suasana hati dalam perjalanan
Merindu semakin membuncah riang Mata yang tak bertatap, jua raga tak berjumpa
Semoga kelak kita tidak sekedar bertemu di persimpangan.

Dan
Aku menunggu waktu itu tiba

aqswdefgybbczd

Terkadang ada rasa senang,
Tapi kadang benci
Saat kamu mencari keberadaan saya
Karena saat kamu mencari saya, kamu pasti langsung memberi saya amanah.
Kamu cuek, saya tidak suka.
Tapi saya suka kamu sebagai partner saya. Kamu total dan tegas.
Saya harus menyesuaikan kamu.
Tapi waktu tinggal sebentar lagi
Semoga saya tidak bikin kamu.kecewa lagi..

Persimpangan

Besok pagi aku kembali ke perantauan
Bersamaan dengan kamu yang kembali ke kampung halaman kita 
Aku ingin sekali bertemu dengan kamu
Walau hanya di persimpangan
Merasakan keberadaanmu yang semakin dekat
Menggebu suasana hati dalam perjalanan
Merindu semakin membuncah riang Mata yang tak bertatap, jua raga tak berjumpa
Semoga kelak kita tidak sekedar bertemu di persimpangan.

Dan
Aku menunggu waktu itu tiba

Kamis, 06 November 2014

Suatu hari nanti

Suatu hari nanti akan ada seseorang yang

Mengajakmu untuk sholat berjama'ah

Menyuruhmu untuk selalu makan yang banyak

Mengingatkanmu untuk menutup aurat yang rapat saat hendak berpergian

Memuji tubuhmu yang kurus kering

Mendengarkan setoran muroja'ah hafalanmu

Memarahimu karena nekat naik motor untuk perjalanan jauh

Menunggumu pulang larut malam karena keretanya terlambat

Meminjamkan pundaknya untuk bersandar saat kau lelah

Memberimu jaket saat kau menggigil kedinginan

Memperhatikan kesehatanmu

Dan segala bentuk tanggungjawab yang tulus karena
Mencintaimu.

Selasa, 04 November 2014

Serius

Serius itu makna yang dalam, tidak sedangkal yang kamu dan aku rasakan.
Menjaga hati saja tidak cukup.
Dan bukan sekedar berusaha memantaskan diri.

Tapi aku belum pantas untuk memulainya
Walaupun hati menuntut kepastian

Aku ingin mendengar dengan telingaku
Melihat dengan mataku
Dan merasakan dengan hatiku

Bahwa serius itu memang benar
Adanya.

Senin, 03 November 2014

Singkat cerita

Belum genap satu tahun aku mengenal sosok yang satu ini. Pertemuan pertama kami terjadi bulan Desember 2013. Kami sudah saling tau, tapi tidak menyapa.
Dia anak kedua dari enam bersaudara. Salah dua adiknya pernah sekolah di tempat yang sama denganku. Tapi aku dan mereka tidak pernah beronteraksi, hanya saling kenal saja.

Dari segi usia dan pemikiran, dia jauh lebih dewasa dariku. Tapi hal itu tidak menjadi halangan dalam pertemanan kami. Banyak hal yang kupelajari dari pengalamannya, keahliannya, dan pengetahuannya yang jauh lebih banyak dariku.

Kami sama-sama orang melancholis, dan sangat suka irama yang sendu. Kami suka bermain alat musik, tapi dia jauh lebih handal dari padaku. Itulah kenapa sebabnya aku ingin belajar bermain alat musik yang belum bisa dia mainkan, yaitu biola. Kami juga suka fotografi, hampir setiap foto yang dia post di akun instagramnya aku menyukainya. Dia pun juga begitu.

Instagramku juga diikuti oleh dua adiknya dan seorang calon adik iparnya.
Aku merasa sepertinya dia menceritakan aku kepada saudara-saudara kandungnya, calon adik iparnya, dan teman dekatnya. Terbukti dari mereka yang mulai memfollow instagramku.

Aku hanya berani menceritakan kisah  pertemanan kami ini pada ibuku. Tapi aku pernah mengumpamakan sosoknya dalam  sebuah pertanyaan yang aku ajukan untuk bapakku.