Jumat, 13 Desember 2013

Love is caring for each other...



Ini adalah gambar yang aku save dari display picture BBM seorang teman. Seketika aku teringat suatu cerita yang dulu pernah aku perbincangkan dengan temanku, dan sampai saat ini cerita itu masih terbayang-bayang di pikiranku.
Cerita itu adalah tentang sepasang kekasih yang mereka masih adalah teman kami sendiri. Mereka sebenarnya (waktu itu) masih berstatus pacaran, tapi kalau dilihat dari sikapnya mereka terlihat saling tidak peduli, pokoknya sama sekali tidak memperlihatkan bahwa mereka itu memiliki hubungan yang istimewa, malah keduanya malah saling tebar pesona ke lawan jenis yang lain. Kalau menurutku sebenarnya antara si cowok dan si cewek saling cari perhatian ke pasangannya.
Namun seorang temanku itu berpandangan bahwa dibalik sikap mereka yang seperti itu sebenarnya mereka masih saling melindungi secara tidak langsung. Jadi sebenarnya si cowok tidak mau pacarnya itu didekati oleh laki-laki lain, begitu pula sebaliknya. Lalu masih ada sikap-sikap “melindungi” yang lain yang sebenarnya tidak mereka perlihatkan di depan publik.
Aku waktu itu berpikir bahwa hubungan mereka tengah berada diujung tanduk, tapi ternyata ya tidak juga. Mereka masih saling “memperhatikan” dan “mencari perhatian”. Sampai sekarang mungkin. Ntah status hubungan mereka (sekarang) sebenarnya seperti apa.
Tapi romantis sekali bukan kalau kisah mereka dapat digambarkan seperti gambar diatas? Dibalik rasa amarah yang terpendam di hati mereka, sebenarnya mereka masih ingin melindungi pasangannya. Seberat-beratnya cobaan yang harus mereka hadapi, “si cowok” tidak ingin si cewek menerima beban yang lebih berat darinya. Dengan perasaan tulus si cowok pun rela memberikan “payung”nya kepada si cewek..yang pernah dia cintai sepenuh hatinya.

ROMANTIS BUKAN?!!!!!! HAAA?!!!

Minggu, 27 Oktober 2013

a t n i C

Belajar dari Cinta. Cinta akan selalu memaafkan dan menggugurkan dosa-dosa yang telah kita perbuat pada kehidupan. Cinta adalah pencipta rindu diantara malam-malam yang sepi, dan penerang di dalam gelap yang pedih. Cinta adalah pemberi kehidupan yang tidak akan pernah habis ketulusannya.

Mencintainya demi alasan yang tidak dapat tertulis. Apakah ini logis? Atau rekayasa hati yang sedang sendiri? Atau skenario kehidupan yang sejatinya ingin memiliki seseorang untuk menemani? Atau karena mata telah buta, hati telah tertutup, dan telinga telah tuli dari kicauan yang dianggapnya mengganggu?

Apakah cinta itu hadir karena terlalu sering berjumpa? Apakah cinta itu datang sebagai balasan karena telah dicintai? Apakah cinta itu muncul karena kecantikan fisik? Bukan, cinta tidak hadir, datang, dan muncul dari sekedar itu.


Cinta itu ada karena tanpa alasan. Apakah benar itu makna cinta yang sebenarnya?????

My Hurt.


“Dia keras kepala. Suka semena-mena kalau orang lain punya pendapat yang beda. Dia cenderung berpegang sama pendapatnya dia. Jadi susah juga kalau diskusi sama dia. Dia bawaannya pengen pendapatnya yang menang”

Kali ini dia tidak ingin menanggapi kata-kata itu dengan sakit hati yang dulu sering dia rasakan. Tapi perasaan itu tidak dapat dia tepis walaupun kejadian ini sudah berlalu satu tahun yang lalu.

Sayang sekali dia baru tahu bahwa orang-orang menilainya begitu buruk di akhir kebersamaannya dengan teman-temannya. Rasanya dia hanya ingin lenyap dan tidak ingin lagi membersamai mereka. Toh dia selalu memperburuk keadaan baik dari segi apapun. Dia tidak mampu menyembunyikan wajahnya yang telah dilumuri oleh keegoisan.

Bodoh sekali dia, bukannya introspeksi malah mencari pembelaan sana-sini. Dia mencari teman yang sekubu dengannya. Yah ada tambahan lagi sifat buruknya, PE NGE CUT! Dia benar-benar tidak tahu diri.

Dia orangnya juga mutungan, atau bisa dibilang: Selalu Ingin Menang Sendiri. Ah, memang manusia satu ini, tidak ada habisnya kalau membicarakan satu per satu keburukannya.

Dia tidak ingin mencari pembenaran terhadap dirinya, toh hal itu juga sama saja memperburuk keadaan. Apapun jenis pembelaannya, semua tidak dapat diterima. Titik.


Yah, that’s true about me.

Jumat, 25 Oktober 2013

Lelaki itu Mendua.

Lelaki itu akhirnya memutuskan untuk mendua
Ia menyerah dalam kekalutannya
Batinnya terus bergejolak
Berperang dalam dilema tanpa menemui penghabisan
Agar ia tetap hidup bersama asa yang panjang dihadapannya

Kini dia punya cara terbaik agar penduaannya
tidak melenyapkan salah satunya
Karena cinta telah mengakar pada si dua
Tapi hidupnya harus terus berjalan bersama si satu

Lelaki itu meniupkan satu harapannya ke atas langit
Kepada hidup yang teramat indah
Kepada pilihan yang membutuhkan segenggam keyakinan
Kepada takdir yang mengizinkan
Lelaki itu mendua.

Hari Terdamai


Hari ini, Jumat 25 Oktober 2013 adalah hari terdamai
Hari dimana aku mengumumkan cita-citaku dan rancangan anganku di depan dosen dan teman-temanku di kelas.
Kejadian ini bukan terjadi dalam acara training motivasi, tapi sebagai wujud implementasi sebuah materi mata kuliah Pancasila.
Aku mengajukan diri maju ke depan, aku berbicara dihadapan 40 teman-temanku, dan seorang dosen disebelahku. Kalian adalah saksinya!
Biar semua tau aku ini punya mimpi!
Biar semua tau hidupku ini punya arah dan
aku akan merancang ia seindah mungkin.
Lihat 10 tahun lagi... Aku akan menjadi....seperti yang aku katakan hari ini pada kalian!

Gantung

Gantung-tung-ting-tinggal-tinggalkan.
Yang digantung segera berubahlah,
Yang menggantung tinggalkan saja,
Yang membuat tergantung alihkan saja,
Karena digantung, menggantung, dan tergantung
adalah sebuah siksaan disaat
kesendirian,
adalah sebongkah kenyataan terpahit disaat
kesepian.

Rabu, 23 Oktober 2013

Introspeksi Diri

Terkadang kita suka menggantungkan kebahagiaan dan harapan kita pada orang lain,
Sehingga oranglain itu berhasil memegang peran terbesar pada perubahan emosi kita,
Kita begitu terbuai dengan harapan-harapan yang sejatinya belum terlalu indah untuk dimiliki saat ini,
Apakah itu perasaan yang salah?
Kita menyadari bahwa itu adalah hal yang salah ketika orang itu tiba-tiba bersikap tidak menyenangkan,
Seolah-olah kita adalah korban tipu daya dari kebahagiaan yang pernah orang lain berikan kepada kita.
Tapi sebenarnya kita lupa bahwa kita pernah bahkan sering melukainya.
Kita tidak sadar bahwa betapa egoisnya kita, mengutamakan kebahagiaan diri sendiri dan merasa diri kita adalah yang paling benar.

Hidup ini adalah pelajaran,
Belajarlah dari sikap orang lain yang tidak menyenangkan pada kita,
Janganlah mengutamakan rasa SAKIT HATI saat orang lain berbuat seenaknya,
Meremehkan, bersikap acuh, sombong
Barangkali kita lah yang lebih dulu bersikap itu padanya.

Mulailah berkaca, mulailah memperbaiki diri... J