Kamis, 18 Juli 2013

Jilbab dan Akhlaq

    Jika engkau berjilbab dan ada orang yang mempermasalahkan akhlaqmu, katakan kepada mereka, "antara jilbab dan akhlaq adalah dua hal yang berbeda".
          Berjilbab adalah murni perintah Allah, wajib untuk wanita muslim yang telah baligh tanpa memandang akhlaqnya baik atau buruk. Sedangkan akhlaq adalah budi pekerti yang bergantung pada pribadi masing-masing. Jika seorang wanita berjilbab melakukan dosa atau pelanggaran, itu bukan karena jilbabnya, namun karena akhlaqnya.
"yang berjilbab belum tentu berakhlaq mulia, namun yang berakhlaq mulia pasti berjilbab"

Wallahu'alam...

18 July 2013

Ntah ini gimana rasanya harus seneng ato sedih. Ah, gak karuan. Rasanya hati kayak dipermainkan keadaan, baru kemaren seneng karena urusanku dimudahkan untuk mengurus segala tetek bengek di UNS, yang jelas nggak rempong lah. Trus aku juga udah dapet kenalan sesama maba dan kakak senior. Udah dapet jas almamater juga. Keren banget rasanya! Alhamdulillah, aku juga udah survey rumah kost, insya Allah cocok, soalnya kost itu hanya menampung wanita muslimah mahasiswa UNS fakultas Ekonomi. Biayanya perbulan juga nggak sampe 200rb. Yaahh, alhamdulillah banget, harga-harga kebutuhan apapun di Solo juga masih tergolong murah. Makasih banget ya Allah..... ^_^
Namun hari ini. Oh noo, ketika aku menceritakan kebahagiaanku kepada ayahandaku tercinta, beliau bilang, "lhah kan masih ada pengumuman simak sama UM". Oh daddy, aku lupa mempertimbangkan itu! Aku lupa dengan komitmenku kalo aku ketrima di UI aku akan lebih memilih UI. Atau kalau aku tidak lolos simak, tapi lolos UM UGM di pilihan pertama, Ekonomi Studi Pembangunan, aku pun akan lebih memilih UGM. Huh, padahal rencanaku itu baru tak publikasikan dua hari yang lalu. Eh sekarang? Apapun yang terjadi, udahlah mantep di Solo aja. But, inti dari perbincangan aku dengan bapakku: "Aku jangan mantep dulu di Solo". Uh, nggantung banget "-____-
Dan hari ini juga... Pengumuman SIMAK UI keluar. Jengg jenggg... Apa yang terjadi? Aku gak lolos. Apa yang kurasakan? Kretekk... kretekk... kretek... tapi cuma lima menit sih. Habis itu aku sms Arifin, dan liat twitnya Dea, mereka temen-temenku yang ikut simak juga. Mereka juga nggak lolos. Tapi mereka udah lolos SBMPTN sih. Arifin di Komunikasi UGM dan Dea di Akuntansi UNDIP. Yo wes to, bakal nyesel tuh UI nggak nerima kita! Eh mereka aja dink. hahaha (-_____-)
Yo wes, saiki piye? Besok Minggu aku sekeluarga mau berkunjung ke calon kediamanku di Solo, alias survey rumah kost yang kemarin aku kunjungi. Bayangno piye perasaanku? Waktu perpisahanku dengan mereka semakin dekat. Bahkan tidak sampai sebulan lagi aku bakal mengurus kepindahan kesana, karena ospek dimulai tanggal 20 Agustus. Argh, selama delapan belas tahun aku hidup di muka bumi ini, waktu paling lama aku pisah sama keluargaku itu dua minggu. Kadang aku menghibur diri dengan mengingat Manas yang ke Surabaya, Rully ke Makassar, dan Farchan ke Semarang. Eitss, tapi emang dasarnya mereka juga bukan asli Jogja, so mereka udah terbiasa jauh dari orang tua waktu sekolah di Mayoga. Fine! aku dan mereka nggak sama! Apalagi mereka cowok. Huhu
 Walaupun Solo itu deket, cuma satu jam naik kereta, cuma tiga jam naik bis, motor, mobil. Tapi, aku masih butuh kekuatan untuk siap berpisah dengan "zona amanku" di Jogja. Wah, koyo arep ngopo wae to iki. Terlalu berlebihan ya sepertinya. Hoffhhh. Mungkin galauku ini hanya bersarang sebentar, ntar kalau udah mulai kuliah, udah terjun dalam dunia yang baru, insya Allah semua akan baik-baik saja.
 Pokoknya tetap bersyukur dengan apa yang sudah kudapat, dan terus berdoa supaya selalu ditunjukkan jalan yang terbaik untuk melangkah selanjutnya. ^^ keep unyu, Naila ^^


Minggu, 14 Juli 2013

Sad story

      Siang tadi aku bertemu dengan salah satu kerabatku yang diterima di perguruan tinggi di Surabaya. Awalnya perbincangan kami seputar rencana kehidupan kami kedepannya setelah meninggalkan kota Jogja tercinta. Dia juga barusaja membeli tiket kereta api untuk keberangkatannya ke Surabaya hari Minggu besok guna mengurus registrasi disana. Aku pun begitu, dalam waktu dekat aku akan ke Solo, semua berkas sudah ku siapkan, dan berbagai pertanyaan juga sudah siap kuajukan. Aku yang tadinya merasa sendirian, kini rasanya ada yang menemani menjalani hidup baru sendirian. Ada dia yang ke Surabaya, dan juga temanku yang diterima di Semarang dan Makassar.
            Akhirnya perbincangan kami pun mengerucut pada salah satu seseorang. Dia adalah “teman dekat”nya kerabatku itu. Ntah bagaimana hubungan mereka itu, tapi sudah sangat jelas bahwa mereka memiliki ikatan, walaupun belum diresmikan. Kerabatku itu bercerita tentang teman dekatnya yang belum lolos perguruan tinggi. Dia sangat menyayangkan teman dekatnya itu. Dia sangat ingin membantu, bahkan  rela mengantarkan buku dan soal-soal guna membantu belajar ke rumah teman dekatnya yang jaraknya cukup jauh menurutku.
            Kerabatku sangat beruntung bisa diterima di jurusan dan perguruang tinggi yang dia incar sejak lama. Tapi di sisi lain dia harus meninggalkan teman dekatnya. Dan perasaan takut kehilangannya itu pasti lebih besar daripada kebahagiaan dan kebanggaannya. Membuat semua menjadi hambar, serasa jiwa melayang, hanya mengikuti angin kemana akan berhembus.


     Karena aku pun merasakan hal yang sama.

Semangat kawan!


Maafkan aku yang tidak bisa menemani kamu belajar, seperti dulu kamu yang menemaniku belajar. Maafkan aku yang tidak pernah mengingatkanmu belajar, seperti dulu kamu yang selalu menyemangatiku untuk belajar. Maafkan aku yang tidak banyak membantumu, seperti bantuan yang telah kau berikan padaku.

Aku mencoba untuk memahamimu. Aku takut sikapku salah, bahkan menggurui. Melontarkan sepatah kata semangat untukmu saja aku tidak berani, hanya lewat tulisan diatas kertas mungil itu pesanku tlah ku sampaikan. Semoga bermanfaat dan membantu.

Dalam diamku aku selalu berdoa, dalam ketidakpedulianku aku sangat ingin tahu keadaanmu, dalam amarahku aku merasa tidak ada ruang untuk sedikitpun melupakanmu.

Semoga kebaikan dan segala kerja kerasmu dibalas dengan indahnya rencana Allah untukmu. 

Aku tunggu kabar baikmu, kawan.


Jumat, 12 Juli 2013

Jomblo Terhormat

Allah sudah berjanji pada kita bahwa setiap insan yang akhlaknya baik pasti akan mendapatkan pasangan yang baik pula. Ya, pada intinya pasangan kita nantinya adalah cerminan diri kita. Menyandang status jomblo terhormat buat anak muda di jaman sekarang memang sulit diraih karena iman masih mudah digoyahkan. Seperti aku. Walaupun aku punya prinsip tidak pacaran, tapi kalau keadaanku masih seperti ini dan tidak berprogress. Maka bisa saja kemungkinan itu bisa terjadi. Ya Allah, semoga kalau nanti aku jauh dari orangtuaku, aku tidak nakal, tidak bohong, tidak kelayapan. Semoga aku bisa istiqomah, mandiri, tahan banting, percaya diri, dan pastinya selalu diberkahi dan di rahmati oleh Allah.
Aku sungguh mencintaimu ya Rabb... Lindungi aku...

SKANDAL

Skandal. 

Aku tidak ingin memaparkannya. Yang jelas Allah tlah mengabulkan pintaku untuk melenyapkan kenistaan itu dari muka bumi ini. Semua habis tak tersisa. Semua terbakar oleh amarah hati yang membara. Walaupun kebodohan sangat jahil mengungkit-ungkit, hingga terasa menjijikkan. Yuck.

Aku Gal..


Aku galau. Ntah apa yang aku galaukan. Aku berusaha untuk selalu bersemangat dengan apa yang terjadi pada diriku saat ini, tapi lama-lama semangat itu melebur bersama angin yang berlalu. Aku tidak bergairah, rasanya hambar, biasa saja. Apa ini tentang penantianku menunggu pengumuman simak UI dan UM UGM? Apa ini tentang halida, lia, triana, fathur, hasan, ulwan, dan teman-temanku yg lain yg belum lolos masuk PTN? Apa ini tentang keawamanku ketika nanti harus mengurus berkas dan mendaftar asrama di Solo? Apa ini tentang skandalku? Hahhh…. Aku memang dibuat galau karena itu. Tapi ku kira bukan itu penyebab utamanya, agaknya ada alasan yang lebih tepat. Aku sulit menjelaskannya, mungkin ini tentang kehilanganku.