Rabu, 03 April 2013

About Her...


Tentang Dia, dia yang diam-diam aku kagumi :3

Aku sedikit tau tentang dia, dan aku ingin mengenalnya. Mungkin dia hanya tentang namaku, dan mungkin tidak ada keinginannya untuk mengenalku lebih.

Aku tidak begitu mengenal perawakannya, aku hanya bisa menebak-nebak tentang dia dari penyelidikanku di dunia maya. Sedikit aku ketahui kehebatannya adalah: Cantik, pintar, modis.

Dia sepantar denganku, sama-sama gadis belia yang berusia 18 th, tapi dia lebih tua 3 bulan dariku.

Dia berambut panjang, dia suka sekali mengguraikan rambut panjanganya. Dia selalu menjaga rambutnya agar selalu tampak rapi, sekalipun bila diterpa angin.

Dia memiliki fisik yang ideal, langsing, tubuhnya semampai, cantik, kulitnya cenderung gelap kecoklatan.

Dia suka berpose sinis saat kamera tlah siap dihadapannya, dia jarang tersenyum. Tapi ku akui dia memang nampak cantik seperti itu.

Satu hal yang buatku terkejut. Dia membuktikan kepintarannya itu dengan terpilih menjadi perwakilan pertukaran pelajar dari sekolahnya ke Jepang. Membuatku semakin mengaguminya.

Pernah suatu kali aku tidak sengaja melihatnya saat sekolahnya mengadakan event. Dia cantik sekali malam itu, terlihat modis dari apa-apa yang melekat di tubuhnya, dia memang slalu ingin tampil seperti anak-anak muda perempuan jaman sekarang.

Sedikit aku tahu tentang keluarganya. Dia adalah anak tunggal dalam keluarganya. Dia anak perempuan semata wayang orangtuanya. Ayahnya adalah dosen di sebuah universitas ternama di kota ini, beliau sempat menulis beberapa buku tentang filsafat sejarah. Sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga yang kurang lebih sama seperti ibuku. Ibunya berjilbab, tapi dia belum.

Aku mengaguminya, tapi itu bukan berarti aku ingin seperti dia. Aku dan dia sangat jauh berbeda. Tapi mungkin kalau kita sudah saling bertemu dan mengenal, kita bisa cocok, karena perbedaan itulah yang mentautkan kita…. ^_^

Kapan ya bisa mulai berteman denganmu, Ainina Zahra? :-D

Little confession


Aku tak berani bilang aku mencintaimu, tapi akupun tidak menolakmu. Karena siapapun engkau, aku tak yakin kita akan bertahan sampai nanti kita akan terikat satu. Tapi emosi ini sungguh mempermainkanku, aku terlalu lugu untuk disukai, namun begitu banyak aku beralasan untuk membalas cinta, padahal aku tahu itu tidak sepenuhnya baik. 

Sakit




Lidahku pahit

Tenggorokanku radang

Kepalaku pusing

Pandanganku kurang jelas

Tubuhku lemas

Wajahku pucat

Sendiku nyeri

Ah, sakit.

Kenapa aku mudah terserang sakit di kelas 2 ini?

Sudah beberapa kali aku harus absen karena sakit.

Ya Allah, semoga rasa sakit ini dapat menghapus dosa-dosaku.



23 november 2011

Cemburu



Tak tahukah kau

Aku yang tengah dihantui rasa

Kelabu.

Sangat kau enggani aku

Tiada lagi sautan merdu untukku

Mungkin kau benar

Benarlah dia sepantasnya

Dia yang melebihiku.




13 January 2011


Lika-liku Aku


            Untukku bukan hal yang mudah menapakkan kaki pertama kali di Jogja. Sebuah kota yang ramah, sejuk, dan damai. Namun hatiku kala itu belum seramah, sesejuk dan sedamai kota ini. Banyak sekali perubahan drastis yang kuhadapi. Simak kisahnya :D
            Sebelumnya aku tinggal di Cilebut, sebuah kecamatan di bagian barat Kota Hujan, Bogor. Masa kecilku disana. Di Cilebut aku tinggal di sebuah perumahan yang sangat padat dan ramai, namanya perumahan PWI Jaya. Rumahku bertempat di blok B-4 no.9. Alamat itu sudah berada di luar kepalaku sejak aku masih TK. PWI bukanlah perumahan yang elite, tapi sangat sederhana, bahkan kalangan menengah bawah juga banyak yang tinggal disitu. Ia juga diapit oleh wilayah perkampungan yang memiliki kebun cukup luas.
            Setiap sore perumahan PWI selalu dipadati oleh anak-anak yang bermain. Ada yang bermain sepak bola, layang-layangan, sepedaan, lompat tali, dan lain-lain. Dulu juga ada andong dan kereta-keretaan yang melintas di perumahan ini sebagai alternative hiburan untuk anak-anak. Eits, tapi tidak hanya itu, masjid pun juga tak kalah rame karena dipenuhi anak-anak yang mengikuti kegiatan TPA. Sungguh masa kecilku yang indah dan menyenangkan.
            Karang taruna remaja disana juga bagus, solidaritasnya tinggi, anggotanya banyak, dan sangat aktif mengadakan event-event untuk masyarakat. Misalnya lomba tujuh belasan, kartinian, kegiatan di bulan Ramadhan, dan lain-lain.
Aku memiliki banyak teman sebaya. Dalam satu gang saja aku memiliki 3 teman sebaya. Teman sebaya, adik dan kakak kelas yang satu SD denganku juga banyak yang tinggal di PWI, kita biasanya berangkat ke sekolah bersama dengan mobil jemputan. Oh ya nama SDku adalah SD Negeri Kebon Pedes 1 Bogor. Sebuah SD yang konon katanya kini menjadi SD terfavorit di kabupaten Bogor. Hehe
            Percaya atau tidak, dulu aku sempat menjadi bintang di SD ku itu. Selama 4 tahun sekolah disana, tidak pernah satu kali pun aku berada diluar peringkat 3 besar. Aku kerap mendapat peringkat 1, aku juga sempat menjabat ketua kelas 2x periode. Aku pun menjadi kebanggaan orang tuaku, guru-guru, teman-teman, dan semua yang mengenalku.
            Selain prestasi akademik yang mengudara. Aku juga punya prestasi non akademik yang orang-orang takkan pernah percaya bahwa aku pernah bergelut di dalamnya selama 2 tahun, yaitu seni Tari. Ya, dulu aku ikut les menari di tetanggaku. Aku kerap ikut lomba dan sesekali tampil mengisi acara. Yang paling terngiang dalam ingatanku adalah ketika aku dan teman-temanku mengikuti sebuah lomba seni tari di TMII (Taman Mini Indonesia Indah) Jakarta dan berhasil meraih juara 3 se-jabodetabek, yang membuatku lebih bangga adalah karena saat lomba posisiku berada di paling depan. Hehe.. menjadi kebanggaan tersendiri buatku.
            Selain pandai menari, aku juga pandai bermain lompat tali, permainan yang sedang naik daun kala aku kelas 3-4 SD. Di lingkungan rumah maupun sekolah, permainan itu selalu dilakukan anak-anak sebayaku. Oleh karena itu terkadang aku menjadi rebutan teman-temanku agar aku bisa berkelompok dengan mereka.
            Hmm, kalo masalah cinta monyet. Dulu aku cukup menjadi perhatian teman laki-lakiku yang sensasional dan berbagai macam latar belakang. Haha. Ada yang terkenal karena sifatnya yang jagoan, yang kaya, yang pintar, bahkan yang sholeh pun juga ada. Kebanyakan dari mereka adalah teman sekelasku sendiri. Dulu cara PDKT mereka adalah dengan mengejek-ejekku, dan akhirnya kami saling berkejar-kejaran sampai jantung mau copot karena ngosh-ngoshan. Yahh namanya juga anak SD.
            Sejak kecil aku juga sudah dilatih menjadi pribadi yang mandiri, dapat bertanggung jawab dan mengurus diri sendiri. Aku masuk sekolah pukul 12.30 dan pulang pukul 16.30 sore, oleh karenanya di pagi hari aku sudah ditinggal sendiri di rumah, bapak sudah berangkat kerja di Jakarta, ibu mengantar dan menunggu adikku yang kala itu masih TK di sekolahnya. Rasanya sedih sekali. Tapi waktu di pagi hari aku gunakan untuk les bahasa Inggris dan les sempoa di perumahan lain yang tak jauh dari rumahku. Aku berangkat les sendiri dengan menggunakan angkutan umum.
            Yaa, begitulah masa kecilku di Bogor.. Suasananya menyenangkan. Banyak yang menyayangiku, dan tidak ada yang meremehkan aku. Semua berjalan sempurna. Ibarat artis, kala itu hidupku tengah naik daun. Aku bisa dengan mudah meraih apapun yang kumau.
            Tahun 2005 adalah tahun dimana aku harus berevolusi. Aku dan keluargaku pindah ke Yogyakarta. Seperti di sinetron, aku pikir Jogja adalah kota yang terbelakang, ndeso, dan…..aku yakin akan lebih bersinar disana. Tapi ternyata tidak. Semua itu tidak benar. Justru disini semua berkebalikan dengan hidupku di kota sebelumnya.
            Aku pindah ke Yogyakarta karena bapak naik pangkat menjadi kepala cabang BTN Syariah Jogja di Condongcatur, istilahnya bapakku itu dimutasi. Bapak asli Jogja, oleh karenanya ditempatkan di Jogja merupakan suatu yang ajaib dan sama sekali tidak disangka-sangka. Dari keluarga bapak yang masih tersisa di Jogja adalah mbah kakung dan mbah putri, Oom, dan tanteku.
            Aku tinggal di perumahan Nogotirto 2 Jl.Sumatera D-46 Gamping-Sleman. Rumah itu adalah rumah dinas bapak dari kantor. Rumah itu menjadi rumah paling elite yang pernah kutempati dari 2 rumah sebelumnya, di Bogor dan di Bandung. Ya sebelumnya aku juga pernah tinggal di Bandung selama 2 th pada tahun 1999-2001.
            Aku melanjutkan sekolah di SDN Demak Ijo 1. Jaraknya hanya 1 km dari rumah. Waktu awal sekolah aku kerap diantar dan dijemput oleh supir bapak. Tapi lama-lama aku malu karena teman-temanku pada naik sepeda dan jalan kaki. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli sepeda agar aku bisa menyamai teman-temanku.
            Perubahan drastis pun dimulai. Mulai dari bahasa sehari-hari, suasana, kebiasaan, dan masih banyak lagi. Dulu waktu pertama kali aku masuk kelas dan kenalan dengan teman-teman. Aku disuruh salah satu dari mereka membaca huruf U-S-A, dan disuruh membalikkannya. Lalu aku ditertawai dan dimarahi teman-teman. Aku tahu sepertinya kata itu mempunyai makna yang jorok dan tidak baik. Aku masih ingat nama temanku yang menyuruhku itu, namanya Nurida Tri Damayanti. Haha
            Ku pikir bahasa Jawa itu lebih mudah dikuasai daripada bahasa Sunda. Karena latarbelakang keluargaku memang dari Jawa, jadi kupikir aku memiliki bakat yang lebih untuk menguasai bahasa Jawa daripada Sunda. Tapi ternyata sampai saat ini pun masih banyak kosakata bahasa Jawa yang tidak aku mengerti. Bahkan aku suka dibilang lucu kalau bicara menggunakan bahasa Jawa, katanya logatku aneh. Terkadang aku merasa asing diantara teman-teman yang sudah pandai berlogat Jawa karena mereka memang asli Jawa.
            Selain berat di bahasa. Suasana di Jogja pun berbeda. Perumahan dimana tempatku tinggal sangat sepi. Tidak ada anak-anak yang bermain, mungkin ada tapi tidak seramai kala aku di Bogor. Rumah-rumah disitu juga cenderung ‘menengah atas’, mobil sudah menjadi kendaraan yang wajib dimiliki setiap rumah. Tidak ada rumah yang tidak berpagar, dan hampir sebagian besar memiliki taman. Termasuk rumahku.
            Suasana keluargaku juga aneh. Bapak yang biasanya kerja diluar kota, berangkat setelah Subuh dan pulang setelah Isya, kini memiliki banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Kita ber-4, aku, mas Alfa, Bapak, dan Ibu, sering sekali bersama. Dulu cara bapak menghilangkan rasa sepiku dengan jalan-jalan keliling kota Jogja. Yang paling sering dan hamper menjadi rutinitas adalah ke Toga Mas, makan malam diluar, dan mengunjungi kantornya. Semua itu menjadi hal baru bagiku. Tapi ntah mengapa hatiku tetap merasa kesepian.
             Di sekolah baru, banyak sekali tantangan batin yang kuhadapi. Aku juga sempat dikucilkan, dan tidak memiliki teman. Tidak jelas apa penyebabnya. Aku juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan prestasi yang sama seperti dulu. Aku tidak pernah masuk dalam peringkat 5 besar. Aku tidak pernah juara lagi seperti dulu. Sampai saat ini pun aku bukanlah murid yang bisa diandalkan dalam bidang akademik, maupun nonakademik. Prestasi yang dulu kumiliki tidak lagi berarti karena aku telah menjadi daun yang layu.
            Setelah lulus dari SD, aku ingin melanjutkan studi di SMP Negeri 5, sekolah bapak dulu. Kata bapak SMP itu adalah yang paling favorit di Jogja. Tapi ternyata untuk diterima disana sulit juga, nem minimal masuk disana adalah 26, sedangkan nemku hanya 22,33. Betapa bodohnya aku. Dan akhirnya aku masuk di SMP swasta islam, SMP Muhammadiyah 3. Oleh karenanya aku harus menutup aurat dan yang pastinya aku harus berjilbab. Hal yang tidak pernah aku rencanakan sebelumnya.
            Alhamdulillah, dari situ Allah menunjukkan hidayahNya kepadaku. Untung nemku tidak mencukupi untuk masuk di SMP Negeri, untung aku sekolah di Muga, kalau tidak? Belum tentu aku bisa belajar lebih mendalam tentang keyakinanku sendiri. Belum tentu aku menutup aurat hingga saat ini. Dan belum tentu juga aku bisa memiliki teman-teman yang mampu menuntunku untuk lebih dekat padaNya.
            Mungkin kini hidupku memang tidak seindah dulu. Tapi menurutku hidupku yang dulu dapat membutakan dan membuatku terlena akan manisnya pujian. Kini walaupun aku tidak secerah dulu tapi aku akan berusaha dengan cara apapun yang diridhoiNya.
            Setelah lulus dari SMP, aku melanjutkan studi ke MAN Yogyakarta III. Lagi-lagi ia bukanlah sekolah yang aku rencanakan sebelumnya. Aku gagal lagi masuk ke SMA bapakku dulu, SMA Negeri 3. Tapi sebenarnya aku lebih tertarik SMA Negeri 1. Lagi-lagi juga alasannya karena nem ku tidak cukup, hanya 34,50. Sementara nem terendah yang dapat diterima di SMA itu berkisar antara 36-37.
            Aku tidak menyesal masuk di Mayoga, karena sebelumnya aku selalu meminta petunjuk dari Allah untuk memasukkanku ke sekolah yang terbaik untukku. Dan Mayoga adalah anugerah dari Allah :) 
Prestasi akademikku lagi-lagi sulit menonjol. 10 besar saja aku tidak masuk. Akhirnya aku beralih ke  hal lain yang menurutku aku akan bisa berkembang di dalamnya. Seperti lomba Karya Ilmiah, nge-Band, ikut Organisasi, ikut Pramuka, dan kegiatan lainnya. Alhamdulillah, kini aku selalu mencoba mensyukuri apa yang sudah aku dapat. 
            Teman-teman di Mayoga juga sholih dan sholihah, mereka sudah memiliki banyak pengetahuan Agama dan wawasan umum. Mereka cerdas, kritis, dan memiliki pendirian. Tak hanya berpotensi di bidang akademis, tapi sebagian dari mereka juga memiliki jiwa kepemimpinan yang hebat. Aku bangga sekali berada di antara mereka, walaupun sering kali aku merasa minder dan tidak ada apa-apanya dibanding mereka.
             Kini walaupun nyatanya aku sulit untuk menjadi yang terbaik. Tapi selalu memohon pada Allah untuk memberiku yang terbaik. Aku tidak menyesal dengan jalan hidupku yang seperti ini. Karena masih banyak rahasia Allah yang masih menjadi harta karun di masa depan nanti. Semoga aku menjadi pribadi yang kuat dan pantang menyerah. ^_^

KEEP FIGHTING, NAILA. Remember Allah in your heart, always :-)


Sabtu, 05 Januari 2013

CINTA SEJATI







Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku

Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadian

Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada Maha Cinta menyatukan kita

Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadian

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapapun insan Tuhan pasti tau
Cinta kita sejati…..

Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadian

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapapun insan Tuhan pasti tau
Cinta kita sejati…..

Lembah yang berwarna
Membentuk  melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapapun insan Tuhan pasti tau
Cinta kita sejati…..


------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Siapa yang sudah pernah menonton film "Habibie & Ainun" pasti kenal dengan lirik diatas. Ya, lirik yang dilantunkan oleh Bunga Citra Lestari adalah OST soundtrack film "Habibie & Ainun" yang beberapa waktu lalu telah memukau masyarakat Indonesia. Kisah cinta mantan presiden Indonesia ke-3 ini awalnya dituangkan dalam bentuk buku yang dikarangnya sendiri, lalu diterbitkan pada tanggal 30 November 2010 dan menjadi salah satu buku best seller setelah dinyatakan laris terjual sebanyak 50.000 copy hanya dalam kurun waktu 3 bulan. Kemudian dengan disutradarai oleh Faozan Rizal, cerita ini diangkat menjadi film yang diperankan langsung oleh Reza Rahardian sebagai pak B.J Habibie dan Bunga Citra Lestari sebagai bu Ainun.

Kisah hidup yang sangat menginspirasi. Romantika cinta dan keindahan yang menggelimang selalu bersemayam di kedua insan sejati ini, pak Habibie dan bu Ainun. Sungguh mengharukan ketika kita tahu perjuangan mereka mewujudkan mimpinya, melawan hantaman gelombang kehidupan yang tidak mudah, dan kebersamaan yang tidak pernah hilang sepelik apapun hidup. Sungguh menyentuh.

Aku mulai meneteskan air mata, saat adegan pertama kali bu Ainun naik pesawat menuju Jerman, ia terlihat sangat ketakutan, lalu pak Habibie berusaha menenangkannya. Berlatar pendidikan tehnik mesin di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hoschule Aachen-Jerman, pak Habibie lalu menjanjikan bu Ainun sebuah pesawat yang akan dibuatnya sendiri. Aku tak habis pikir, begitu kuatnya janji itu hingga membutuhkan waktu 32 tahun untuk memenuhinya. Ya, dengan keuletan, kejeniusan, dan kesabaran yang ia miliki, janji itu terpenuhi pada tahun 1995. Pesawat yang dinamai Gatotkaca N-250 adalah buah karyanya yang luar biasa membanggakan seluruh lapisan masyarakat Indonesia dan memukau dunia. Pesawat tersebut merupakan pesawat pertama yang diciptakan langsung oleh negeri sendiri.

Tidak hanya kemajuan teknologi yang berhasil ia pionirkan demi kemajuan bangsa ini. Ia juga merambah ke dunia politik, dimulai dari pengangkatannya menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi dengan masa jabatan selama 20 tahun, kemudian menjadi wakil presiden Indonesia pada tanggal 14 Maret-21 Mei 1998, hingga 2 bulan kemudian ia diangkat menjadi Presiden Indonesia dengan masa jabatan 1 tahun 5 bulan. Sungguh anugerah karier yang luar biasa ia dapatkan.

Behind every great man, there's stands a great woman. Pepatah itu menjelaskan bahwa sesungguhnya dibalik kesuksesan seorang laki-laki, ada sebuah kekuatan yang kokoh dari sesosok perempuan. Bu Ainun merupakan kekuatan dari kesuksesan pak Habibie. Kehebatannya telah terbukti semenjak dari awal pernikahan mereka. Bu Ainun harus rela berpisah dengan seluruh kehidupannya di Indonesia demi menemani suami tercinta yang tengah menempuh studi teknik Mesin hingga S3 di Jerman. Ia pun rela menghentikan cita-citanya sebagai Dokter Anak demi mengurus keluarga kecilnya. Kemudian seiring melesatnya karier pak Habibie hingga titik puncak jabatan menjadi presiden Indonesia, rintangan dan cobaan tak henti menggoncangkan batin keduanya. Namun sesibuk apapun pak Habibie mengurus tanggung jawabnya, bu Ainun sangat setia menemaninya walaupun sampai larut malam, ia pun tak lelah sedikitpun mengingatkan pak Habibie untuk minum obat karena pak Habibie mengidap penyakit TBC. Bu Ainun juga sabar menghadapi sifat pak Habibie yang cenderung keras kepala, namun sekeras apapun itu, pak Habibie selalu dapat diluluhkan sang istrinya.

Penyakit kanker ovarium yang telah disembunyikan bu Ainun selama 2 bulan dari pak Habibie menjadi akhir dari penghujung kisah asmara mereka berdua. Bu Ainun meninggal pada tanggal 20 Mei 2010 karena penyakit yang dideritanya tersebut. Dipenghujung usia bu Ainun, pak Habibie senantiasa berada disisinya hingga hembusan nafas terakhir.

Berdasarkan dari pemaparan diatas, aku ingin mengadopsi kisah Ainun dan Habibie dalam cerita hidupku. Semoga kebadian mereka dimiliki pada kedua orangtuaku, dan juga kisahku dengan laki-laki pilihanku, suatu saat nanti... :)





















Rabu, 02 Januari 2013

Mimpi




Aku hanya berharap

Pada bintang-gemintang

Agar ia sampaikan gundahku pada

Sang rindu

Dan rindu akan

Mengatakan pada adinda

Akan rasa yang tersembunyi dari

Balik kelabu jingga

Senja.





By: Anoname