Jumat, 26 Agustus 2011

Yang Belum Ku lakukan


Maaf,

Aku tak menyapamu,

Saat hiruk pikuk berita kedatanganmu

Silih berganti di telingaku

Aku hanya terdiam

Sejenak aku menunggu ilham

Menghampiri

Apa yang harus ku lakukan

Bagaimana agar semuanya sempurna

Dimata

Bagaimana agar hati tak turut

Mencuat dari penjagaannya

Aku ingin segalanya berlalu sempurna

Tapi aku terlalu memberatkan kesempatan

Yang sangat sekejap ini

Karena ketakutan yang dulu muncul

Belum segera hilang dan sirna.

26 Ramadhan 1432 H 7:43 PM

Kamis, 25 Agustus 2011

Aku Fans Beratmu…..


Beberapa bulan yang lalu, aku dikenalkan oleh seseorang tentangmu. Aku senang, mungkin. Karena aku merasa kau bukan seorang biasa baginya. Aku yakin pastilah dirimu sangat berarti baginya. Mungkin darisitulah aku ingin mengenalmu lebih dekat.

Perlahan aku mencari keberadaanmu. Aku mencarimu di tengah kerumunan orang-orang yang tergopoh-gopoh untuk segera menyelesaikan tugasnya. Hingga akhirnya aku berhasil menemukanmu. Aku menatapmu lebih lama dari biasanya aku menatap orang lain. Aku melihat ketenangan di wajahmu. Tidak ada kegelisahan yang terpancar seperti mereka yang ada di sekitarmu. Wajahmu menebarkan kedamaian untukku. Sungguh anugerah Illahi yang luar biasa kau memiliki paras yang indah. Aku menyukaimu di pandangan pertamaku. Mungkin kau belum mengenal siapa aku. Tapi kau begitu berperan untukku pada hari itu, saat aku baru saja ingin mulai mengenalmu.

Setiap aku melewati tempat dimana kau biasa bercengkrama, aku selalu memperhatikan ke dalamnya. Mencari lagi keberadaanmu. Mungkin kau terlalu dekat denganku, tapi sayangnya kau selalu berada di belakangku hingga aku tak bisa melihatmu. Aku jarang bertemu denganmu saat itu.

Tepat pada suatu sore, waktu dimana aku memutuskan untuk bertegur sapa denganmu. Ya, kau kini tau siapa aku, setidaknya nama dan wajahku sudah terdaftar di ingatanmu, walau belum tentu kau mau mengingatku atau tidak. Tapi perkenalan itu berlangsung begitu sempurna untukku. Ditambah dengan tawaranku untuk sedikit berbasa-basi.

Lagi-lagi, aku dibuat tergila-gila oleh senyummu. Senyummu yang memantul-mantul selalu dalam ingatan ini. Benar-benar hatiku tidak dapat menahan untuk segera ingin memujimu. Aku sangat kagum melihatmu. Aku membangun angan-angan baik tentangmu di dunia khayalku. Hampir sempurna apa yang ku prasangkakan tentangmu.

Setiap aku melihatmu, aku beranikan diriku untuk menyapamu. Berharap semoga kau menyambutku. Tapi aku merasa saat itu kau tidak begitu meresponku sesuai dengan harapanku. Aku terlalu berharap kepadamu.

Tiba di suatu malam. Kau mengirim sebuah pesan singkat. Aku terkejut bukan kepalang. Kau meminta pertolongan kepadaku. Dengan sangat senang hati aku menolongmu, dan itu aku lakukan sesegera mungkin. Aku ingin kau tahu bahwa aku sungguh-sungguh ingin mengenal dan berteman denganmu.

Setelah sekian hari aku mengasingkan diri, dan tidak bertemu denganmu, aku lagi-lagi mencari keberadaanmu. Dan berhasil! Seperti yang sangat ku impikan. Kau berada di tempat dimana kau biasa bercengkrama. Aku mendekatimu. Langkahku terjontai dengan penuh pengharapan. Pembicaraan siang itu rasanya telah memberi arti khusus untukku. Kau telah memberikan sinyal untuk mempersilahkanku lebih dekat denganmu. Sambutmu begitu menyenangkanku, dan lebih dari yang aku mau.

Semakin hari pintu itu semakin lebar untukku. Aku berhasil mendekatimu, mengetahui segala yang ada padamu. Aku tak begitu paham mengapa aku sangat ingin melakukan hal itu. Tapi sesegera mungkin aku membuang jauh-jauh pikiranku yang tidak baik menyangkut hubunganku denganmu. Insya Allah, aku ikhlas mengenalmu, tanpa pamrih apapun. Aku ingin bersahabat denganmu, tidak memandang siapa dirimu sebenarnya.

Hatiku bersorak-sorak tiada henti setiap kali aku berinteraksi denganmu. Ntah itu hanya saling melambaikan tangan, mencolek-colek, saling senyum, apalagi menyapa dan berbincang.

Aku memendam rahasia, dan perasaan yang sebenarnya sungguh membebaniku. Aku sangat ingin sekali bercerita padamu karena aku yakin kau dapat membuatku tenang. Namun aku belum berani untuk memulai cerita itu. Rasanya malah aku tak pantas cerita mengenai hal yang sekiranya membuatmu akan mempertanyakan keikhlasanku berteman denganmu. Aku takut kau mengira aku meminta sesuatu dari pertemanan yang kini sudah berhasil terjalin. Sungguh aku selalu mencoba untuk lenyapkan pikiran itu setiap kali menghantuiku. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku harus bisa mengontrol diriku.

Namun rupanya takdir mengizinkan aku menceritakan semua bebanku kepadamu. Itu pula karena kau yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi denganku. Walau itu tidak kau sampaikan secara eksplisit, tapi apabila aku menjadi dirimu, pastilah aku pun setengah mati penasaran dengan keganjilan yang kini telah tampak di permukaan.

Rasanya aku tidak ingin waktu cepat berlalu. Ya, aku tidak ingin berhenti bercerita denganmu. Kau menyimakku dengan seksama. Dengan sabar dan ikhlas kau mau-mau saja melihat raut wajahku yang penuh kegalauan. Kini memang aku sedang tertimpa batu besar, yang apabila tidak segera aku singkirkan maka ia dapat menindasku hingga aku benar-benar terkubur dalam tanah, hingga jauh ke dasar bumi. Aku takut kalau aku tidak dapat bangkit dari keterpurukkan yang akan menimpaku apabila aku tidak dapat menjaga diriku dengan baik. Semua itu aku ceritakan kepadamu. Namun, rasanya tetaplah aku tidak ingin lepas darimu. Aku selalu mencari topik pembicaraan lain agar kita selalu bisa bersama.

Seiring berjalannya waktu, aku yang semakin mengagumimu, mulai sedikit demi sedikit mengikuti tingkah lakumu. Meniru apa yang suka kau lakukan. Tidak banyak sebenarnya yang aku ikuti. Bahkan mungkin tiada seorangpun yang tahu, karena memang tiada perubahan yang signifikan. Aku menyembunyikan semua itu rapat-rapat di dalam sebuah tepi, kemudian aku kubur amat dalam.

Aku telah berjanji kepada seseorang yang cukup berarti untukmu, seseorang yang mengenalkan aku padamu, bahwa aku akan mengarahkanmu ke kehidupan yang lebih baik, jauh dari segala sesuatu yang membelokkanmu dari petunjukNya yang lurus. Perlahan aku mencoba untuk menularimu bagaimana seharusnya kita sebagai sebaik-baiknya wanita menjalani hidup ini. Semoga kita menjadi wanita sholehah yang terikat dalam ukhuwah islam karena Allah. Semoga semua yang aku lakukan padamu karena Allah, dan semua itu atas seizin Allah.

Baity Jannati

26-Agt-2011/12:15 Am

Rabu, 24 Agustus 2011

For My Endless Love…


Disaat-saat seperti ini, ketika aku mulai merancang mimpiku untuk esok hari. Seharusnya aku harus banyak bersyukur karena aku masih dapat hidup bersama kalian, bapak dan ibu. Apalagi aku bukan anak rantau yang setiap hari dapat menunjukkan kebaktianku, mencium tangan ibu ketika akan berangkat sekolah, meminta uang sangu untuk dibawa ke sekolah, berkeluh kesah tentang banyak hal. Namun keluargaku memang kurang lengkap, bapaklah yang merantau bekerja di ibukota, kota bengis nan kejam se-antero nusantara ini. Bapak yang selalu menyempatkan telepon setiap pagi dan malam hanya untuk menanyakan kabar kami ditengah kesibukannya. Bapak selalu menyempatkan pulang walau itu cuma satu hari, Sabtu pagi, lalu Minggu malamnya sudah harus kembali. Tapi itu tetap tak menyurutkan kebahagiaan di keluargaku. Rindu yang kami bawa adalah sebuah kekuatan besar bagi kami untuk tidak sekali-kali menyia-nyiakan sisa waktu yang Allah anugerahkan.

Adikku yang masih balita, yang masih suka merengek-rengek, lincah dan aktif bergerak, berlari, melompat kesana-kemari. Lalu adikku yang besar mengidap kelainan autis sejak kecil, karena itu terkadang perilakunya sulit diatur. Kemudian aku yang beranjak dewasa, masa-masanya mudah terpengaruh, ingin mencoba hal-hal baru, dan menemukan jati diri. Dengan hangat kasih sayang ibu, beliau tak pernah mengeluh ataupun marah ketika menasihati kami. Semua anak-anak dibimbingnya dengan penuh kesabaran, dan kemuliaannya. Ibuku adalah wanita yang luar biasa berperan dalam hidupku.

Aku hanya ingin memikirkan kalian di setiap helaan nafasku, setiap aku berfikir mau dibawa kemana aku ini hidup selain kepada Pemilik Segala-galanya ini. Aku ingin kalian yang selalu ada di hatiku, bukan orang lain. Aku ingin menjadi anak yang baik. Kalianlah belahan jiwaku sesungguhnya.

Ya Allah munculkanlah namanya setiap aku mengharapkan cinta, munculkanlah bayangannya setiap aku mengharapkan belaian kasih sayang, ingatkanlah aku pada tegurannya ketika aku mulai berada pada jalur yang salah, ingatkanlah aku pada perjuangannya ketika semangatku mulai surut untuk menggapai mimpiku.

Baity Jannati

25 Ramadhan 1432 8:02 AM


Doaku Hari Ini


Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

Oh Allah, aku ini hanya anak manusia yang masih belum apa-apa. Menginjak usiaku yang menjelma sebagai gadis remaja, aku dijejali banyak mimpi yang datang silih berganti. Aku dibebani banyak sesuatu yang membuaiku untuk membelok dari petunjukmu. Aku diajak dari berbagai kalangan yang tidak betul-betul aku pahami untuk mengikuti apa yang mereka ketahui, sementara aku merasa selalu tersudut kebingungan. Aku tidak tahu apa-apa. Aku tahu nuraniku masih belum bening. Penuh noda yang bertebaran dalam setiap sendi raga ini. Tapi betapa aku sangat mengharapkan suci itu adalah datang dari kasihMu.

Aku tak perlu meneteskan air mata karena semua ini. Aku tak perlu berduka dibalik kehidupan yang sangat berarti ini. Karena aku sudah terlalu lama berada dalam belenggu. Sudah tidak ada kesempatan bagiku untuk melarungkan kesedihan karena kebodohan diri ini. Aku tidak bodoh. Aku hanya belum belajar. Aku bukan pecundang. Aku hanya belum tau makna keberanian itu apa. Aku terlihat polos di dalam kebimbangan ini, maka disitulah banyak manusia yang menyerbuku untuk membawaku kedalam singgasananya yang asing bagiku. Aku hanya sedikit tahu dan paham. Aku sadar kemana diriku kini kemana dibawa, karena itulah dari bekalku yang hanya secuil yang pernah aku dapatkan sebelumnya.

Ya Allah, sungguh murka sekali aku ketika aku ingat masa-masa sulitku. Masaku yang sangat sulit untuk mengingatMu. Ketika aku lupa, terus didalam amnesia yang mendesak agar aku menghilangkan diri dariMu, aku sungguh tak paham siapa yang berbuat ini. Namun tidak sepantasnyalah aku menyalahkan siapapun. Aku begitu bersyukur karena setelah aku berbuat kesalahan aku justru semakin tahu kebenaran, dan itu sangat menusuk relungku, menampar seluruh ragaku, mempermalukan aku dihadapanMu. Aku berjanji akan berubah untukMu. Menuruti apa mauMu.

Ya Allah, Yang Maha Pemberi Kasih, izinkan aku mendapat kasihMu, rinduMu, cintaMu. Aku ingin diriku selalu bergetar menyebut namaMu, tertunduk khusyuk dan kaku meminta do’aMu, termangu menatap kesungguhanMu yang selalu menyertaiku. Nikmat islam dan iman ini memang takkan tergantikan dari nikmat yang lain. Islamku dan imanku ku harap dapat ku persembahkan disana nanti, di Surga nan abadi. Semoga aku turut serta menjadi sebaik-baik perhiasan di dunia ini, wanita sholehah.

Maha Benar Allah dari segala firmanNya.


Baity Jannati

25 Ramadhan 1432H 6:21 AM

Senin, 22 Agustus 2011

Salam yang Sempurna

Selamat Datang, kawan.

Setelah kau berhasil menyembunyikan keberadaanmu,

Kini kau pulang membawa seberkas cahaya baru,

Berkah ilmu dan jiwa pejuangmu yang semakin

Melaju melambung,

Bertebarab pada jiwa-jiwa kami yang masih akan

Terus mengingatmu,

Selamat mencari kehidupan yang kau cari, kawan,

Mencari kebenaran hidup

Tinggalkan sandiwara yang tak mengenakkanmu

Berpegang teguhlah dengan apa yang kau yakini

Dengan apa yang telah kau dapat di negeri baru.

Tahukah kawan,

Namamu tak pernah sirna dalam ingatan kami,

Semua padamu selalu terungkit,

Memori denganmu tak jua terlepas

Walaupun hidup kami telah bereformasi.

Salam yang sempurna,

Aku titipkan bersama angin,

Menghembus lewati ragamu,

Menembus ke dasar balut rindumu,

Semoga kami tetap membersamaimu.


23 Agt 2011 10:17 AM

---19 Agustus 2011---


Terlalu singkat

Aku mengenalmu tak buat aku tertambat

Namun laju putaran waktu yang

Menyurungku tuk membuka lapisan hatimu

Hingga ku menyentuh dasar hatimu.

Aku hidup bersamamu

Bersama indahnya mimpimu

Bersama aku yang kau jadikan bidadari

Bidadari yang memujamu tak kenal kadar

Kini ketika aku coba sejenak memejamkan mata

Benar saja aku tidak bermimpi

Aku tidak sedang melaju dalam dunia khayal

Ya Tuhan, apa hanya inilah indah yang sementara

Aku tak mampu lagi menanggungnya

Dalam dilema yang biasa menghimpitku.

Bapak, ini untukmu...

…

Detik-detik menjelang keberangkatanmu menuju kota pintu rizkimu, izinkan aku tuk menumpahkan perasaanku yang sudah tak kuat lagi untuk kubendung.

Selalu ada cerita yang kau bawa saat kau kembali berkumpul bersama kami, termasuk di dalamnya kau berusaha hasut aku hingga jauh ke dasar pemikiranku agar aku bisa lebih darimu kelak.

Andai kau tahu apa inginku, aku ingin kau bawa aku bersamamu, menemanimu. Walau ku tahu kita tetap tak bisa bersama sepanjang waktu, karena kita sudah disibukkan dengan dunia kita masing-masing. Tapi itu tetap tak apa bagiku. Berharap aku dapat mengurangi rasa sepimu. Biarlah aku dibuat tenang sedikit. Dan lenyapkan keragu-raguan yang membayang tentangmu.

Rasa takutku juga tak belum juga sirna hingga kini adalah bila aku tak dapat menyenangkanmu. Aku dengan egoku yang tak dapat dipisahkan kerap membuatmu pastinya tidak bahagia. Kau tentukan aku dengan jalan lain yang sama sekali belum aku pahami. Bukannya aku tak mau turuti perintahmu, bukannya aku ingin sok-sokan dengan mimpiku, bukannya aku meremehkan maumu. Sesungguhnya aku takut impian yang selama ini ku rajut nyatanya tidak seperti kehendakmu. Aku punya mimpi sendiri yang membuatku bahagia dan bergairah menjalani hidup ini, aku bahagia karena aku yakin akan memilikinya sesegera mungkin. Tapi semuanya semu bagiku bila kau tidak meridhoinya. Semoga aku dapat buktikan bahwa aku mampu menggenggam mimpi pilihanku, dan kau akan tersenyum bangga melihatku.

Ya Allah, jadikan aku permata hatinya yang baik. Tanamkanlah jiwanya pada diriku. Jiwanya yang luar biasa, tak mudah menyerah, semangat, berani, tekun, pekerja keras, dan jiwa kepemimpinannya yang mulia.

Ya Allah, aku rindu kebersamaan dengannya. Tapi bila aku tetap tidak dikehendaki untuk menemaninya, kumohon agar Kau yang menjaganya di siang dan malamnya, Kau melindungi dari godaan-godaan dunia yang menggila di kotanya, Kau menolongnya saat ia sudah mulai beranjak jauh dariMu, dan berilah selalu kasihMu yang tak terbatas.

Bapak, kaulah malaikat di keluarga ini. Kaulah yang kami tunggu-tunggu kedatangannya setiap hari Sabtu dini hari, kaulah yang kami tunggu-tunggu di setiap bunyi telepon rumah yang bordering, kaulah yang selalu berusaha memberikan secara adil permintaan kami. Kami mencintaimu. Jarak yang membentang tidak akan pernah bisa pudarkan sedikitpun rasa cinta ini.

Minggu, 14 Agustus 2011

12.54 AM

Salam Rindu,

Permata hatimu yang amat mencintaimu.