Senin, 22 Agustus 2011

Bapak, ini untukmu...

Detik-detik menjelang keberangkatanmu menuju kota pintu rizkimu, izinkan aku tuk menumpahkan perasaanku yang sudah tak kuat lagi untuk kubendung.

Selalu ada cerita yang kau bawa saat kau kembali berkumpul bersama kami, termasuk di dalamnya kau berusaha hasut aku hingga jauh ke dasar pemikiranku agar aku bisa lebih darimu kelak.

Andai kau tahu apa inginku, aku ingin kau bawa aku bersamamu, menemanimu. Walau ku tahu kita tetap tak bisa bersama sepanjang waktu, karena kita sudah disibukkan dengan dunia kita masing-masing. Tapi itu tetap tak apa bagiku. Berharap aku dapat mengurangi rasa sepimu. Biarlah aku dibuat tenang sedikit. Dan lenyapkan keragu-raguan yang membayang tentangmu.

Rasa takutku juga tak belum juga sirna hingga kini adalah bila aku tak dapat menyenangkanmu. Aku dengan egoku yang tak dapat dipisahkan kerap membuatmu pastinya tidak bahagia. Kau tentukan aku dengan jalan lain yang sama sekali belum aku pahami. Bukannya aku tak mau turuti perintahmu, bukannya aku ingin sok-sokan dengan mimpiku, bukannya aku meremehkan maumu. Sesungguhnya aku takut impian yang selama ini ku rajut nyatanya tidak seperti kehendakmu. Aku punya mimpi sendiri yang membuatku bahagia dan bergairah menjalani hidup ini, aku bahagia karena aku yakin akan memilikinya sesegera mungkin. Tapi semuanya semu bagiku bila kau tidak meridhoinya. Semoga aku dapat buktikan bahwa aku mampu menggenggam mimpi pilihanku, dan kau akan tersenyum bangga melihatku.

Ya Allah, jadikan aku permata hatinya yang baik. Tanamkanlah jiwanya pada diriku. Jiwanya yang luar biasa, tak mudah menyerah, semangat, berani, tekun, pekerja keras, dan jiwa kepemimpinannya yang mulia.

Ya Allah, aku rindu kebersamaan dengannya. Tapi bila aku tetap tidak dikehendaki untuk menemaninya, kumohon agar Kau yang menjaganya di siang dan malamnya, Kau melindungi dari godaan-godaan dunia yang menggila di kotanya, Kau menolongnya saat ia sudah mulai beranjak jauh dariMu, dan berilah selalu kasihMu yang tak terbatas.

Bapak, kaulah malaikat di keluarga ini. Kaulah yang kami tunggu-tunggu kedatangannya setiap hari Sabtu dini hari, kaulah yang kami tunggu-tunggu di setiap bunyi telepon rumah yang bordering, kaulah yang selalu berusaha memberikan secara adil permintaan kami. Kami mencintaimu. Jarak yang membentang tidak akan pernah bisa pudarkan sedikitpun rasa cinta ini.

Minggu, 14 Agustus 2011

12.54 AM

Salam Rindu,

Permata hatimu yang amat mencintaimu.

8/13/2011 10:13 PM

Inilah saatku tuk berhenti sejenak lupakan rasa itu. Memang sebenarnya tak begitu mudah untukku. Disamping banyak rekan-rekanku yang justru sudah terbuai dengan keindahan sebuah ikatan percintaan. Tersenyum-senyum sendiri, bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin karena bertemu dengan pujaan hatinya. Aku sempat terikat sejenak dengan seseorang, itu menurutku, karena sikapku yang kurang tegas terhadapnya. Walau kami tidak terikat secara resmi. Tapi batinku lama-lama menggantungkan sebuah harapan yang tak jelas mengapa sebabnya. Aku tahu inilah cinta. Dia tahu aku mencintainya. Tapi ntah mengapa aku membiarkannya, walau dengan segala upaya aku berhati-hati agar tidak mencapai tahap zina hati. Ya Allah, aku hanya mengharapkan perlindunganMu dari segala godaan yang menjajali kehidupan remajaku yang begitu sulit di zaman sekarang ini. Aku mencoba mengeluarkan sedikit keberanianku untuk meluruskan pemikirannya yang masih menyimpang. Tapi mungkin hatiku sebenarnya sudah berhasil ia bawa pulang ke dalam istana hatinya. Sungguh aku terkepung dalam dilema ketika aku harus berhadapan dengan cinta. Sebenarnya sebagai muslimah sejati, tak sepantasnyalah merasa dilema karena pasti ia memilih untuk segera menuruti perintah Allah yang melarang mendekati zina dalam masalah percintaan. Bukan berarti aku seperti itu, aku hanya mudah terjebak dan mudah tumbuh pengharapan kepada lawan jenis yang sudah kukagumi. Aku sadar aku masih terlalu kecil untuk merasakan indahnya cinta terhadap lawan jenis yang sebenar-benarnya. Tapi apalah artinya kehidupan remaja tanpa cinta di hati, bisa ku katakan kehidupan remajanya kurang sempurna. Jadi, cinta itu pasti dapat datang menghampiri kapan saja, tak kenal waktu, siapa, mengapa. Ia datang membawa kesejukan dan kedamaian yang takkan terganti. Dan menjadi memori terindah dalam cerita hidup kita.

Sedikit mengutip puisi Kahlil Gibran, “Ikutilah cinta, walaupun jalannya sulit dan terjal”

Kaulah Cintaku,


Bidadari yang menghampirimu,

Lambaikan tangannya, dan tebarkan aroma kesejukannya,

Senyumnya tak kan pudar menghantui malammu,

Ia diselimuti awan putih yang meneduhkan jiwamu,

Ia tuliskan namamu diatas lembar-lembar kertas,

Bersama jutaan lirik dan syair yang ia buat,

Namamu yang ditulis dengan tinta permata,

Namamu yang menari-nari diatas kertasnya,

Namamu yang terlihat di kidung pengharapannya,

Berharap kau kan membalas rasa sayangnya.

Pandangan Pertamaku,

Kelabu senja tebarkan cintanya,

Saat bulan dan mentari bercengkrama

Memadu cinta,

Aku belum tahu tentangmu,

Aku tak yakin hadirnya dirimu,

Senja itu aku masih memikirkannya,

Bukan dirimu, tidak akan aku memikirkanmu,

Pandangan pertamaku hanya siluet asingmu,

Yang kian lama kian menggila dalam raga,

Pandangan pertamaku tidak begitu berarti,

Aku tetap tidak inginkan dirimu,

Dan tidak juga aku lupakan

Pandangan pertama di senja itu.

Yang terjelas dalam hati,

Aku takut kehilanganmu,

Apabila kau untukku, semoga aku bisa mencintaimu

Segera.



8/13/2011 3:50 PM

Malam Pertama Bulan Ramadhan


Bintang gemintang yang bersinar. Sungguh keajaiban Allah yang sangat kita dambakan. Ia tawarkan suasana yang serasi dengan hati kita yang menggebu menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Kerlap-kerlip cahayanya aku tatap, diiringi derap-derap langkah manusia menuju satu tempat ibadah yang sama. Aku pun tak ingin kalah dengan bintang-bintang itu, aku ingin selalu semakin hidup dan bersinar, serta dihidupi dan disinari oleh manusia-manusia yang beriman. Aku tak ingin dibelenggu oleh persoalan yang cukup rumit yang kini kembali menyertai kehidupan remajaku. Tapi kali ini dengan segera aku tutup pikiran itu dengan segera bertadarus Al-Qur’an menjelang maghrib. Aku mengaji dimulai dari lembar pertama Al-Qur’an. Aku berharap dapat khatam Al-Qur’an di bulan penuh berkah ini.

Sampai di masjid Muqorrobin, aku segera memperebutkan tempat sholat ditengah himpit-himpit jama’ah yang juga ingin sholat Isya dan Tarawih. Aku teringat kata-kata mbak Ria sesaat setelah sholat maghrib tadi. Ia berkata bahwasanya keramaian jama’ah sholat Isya’ dan Tarawih hanya terjadi pada seminggu awal bulan Ramadhan, lalu lama kelamaan jumlah jama’ahnya akan semakin berkurang seiring habisnya masa Ramadhan. Alangkah sedihnya jikalau semangat para jama’ah malah semakin menurun, padahal klimaks dari bulan Ramadhan, yaitu Lailatul Qodar, malam yang insya Allah penuh berkah dari malam-malam Ramadhan yang lain, tak menentu kapan terjadi.

Aku ingin sholat dengan khusyuk, namun terkadang ada sedikit pikiran yang mengganggu, segera kutepis dan aku mantapkan lagi do’a-do’a yang kupanjatkan pada Sang Pemilik Ramadhan ini.

Ya Allah, aku menganggap ini Ramadhan terakhirku, agar aku selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah kepadaMu. Jadikan aku umatMu yang mulia, berilah aku ridhoMu di setiap sudut kehidupanku, dan teguhkan jiwaku untuk selalu berada dalam kebenaranMu.

Maha Benar Allah Dengan Segala FirmanNya.

4 Agt

Berita siang tadi sangat membuat hatiku semakin tergoncang, mungkin karena sudah beberapa jam aku sudah merasa seperti itu.

Aku yang kemarin masih terlalu berharap namamu muncul di kedalaman pikiranku, aku yang beberapa jam lalu masih kerap mengetik namamu untuk aku ceritakan pada siapapun bahwa aku sangat bahagia mencintaimu, dan aku yang kini duduk dengan terengah-engah menulis apa yang kini menjadi berat untuk aku percaya.

Jangan biarkan aku gila dikepung tanya yang menghujam. Biar raguku bukan kau yang jelaskan. Ceritamu laksana kerumitan yang tak kunjung hilang walaupun kau tetap hidup dengan aku di dadamu. Aku tak mengenal dirimu. Mungkin aku tidak menempatkanmu, seharusnya dimana dirimu singgah di hatiku.

Satu Tahun yang Lalu


Kepada belahan jiwa,

Aku jelitamu sedang tiada daya,

Menginginkan dewa-dewa tak bersayap,

Tuturnya tenang, bijak,

Semakin membuaiku.

Ku lama menanti,

Dalam kian semakin kuratapi,

Terpanggang oleh diam keraguan,

Seraya kicauan burung pertanda

Kematian.

4/27/2011 3:56 AM

KEJAM


Baru ku ingat
Kau pernah kejam berbuat
Kau ciptakan harmoni nestapa.
Dengan segala upaya kau segera
Serta segala tingkah kau berupa

Oh, selama inikah gerangan pendam kebencian?
Hingga ceraikan mimpi adinda.
Gerangan yang dahulu kala kenalkan pada ketenangan.
Tak berhenti adinda belajar apa yang gerangan pernah kenalkan.
Dan tak akan berhenti, walau gerangan akhiri hamba dengan penyesalan.




4/27/2011 6:59 PM